Banjarnegara — Bencana tanah longsor yang melanda Desa Situkung, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, pada 16 November 2025, meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat. Material tanah yang runtuh dari lereng perbukitan merusak rumah warga dan mengganggu rasa aman mereka.
Sebagai bentuk kepedulian, FORSIMMATH bersama Santri Gayeng Nusantara (SGN) dan DEMA STAI Tanbihul Ghofilin turun langsung ke lokasi pada 18 November 2025 untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada para korban.
Jejak Duka di Situkung
Di lokasi bencana, sisa-sisa longsor masih terlihat jelas. Tanah basah dan puing bangunan menjadi saksi betapa cepatnya alam berubah menjadi ancaman. Sejumlah warga terpaksa mengungsi dan hidup dalam kecemasan akan potensi longsor susulan.
“Sampai sekarang kami masih trauma. Setiap hujan deras turun, rasa takut itu kembali,” ujar salah satu warga terdampak.
FORSIMMATH dan Gerakan Kemanusiaan
Aksi kemanusiaan ini dikoordinasikan oleh FORSIMMATH bersama SGN dan DEMA STAI Tanbihul Ghofilin. Bantuan yang disalurkan meliputi kebutuhan pokok, perlengkapan harian, serta dukungan moral bagi warga yang terdampak.
Bagi para santri dan mahasiswa, kegiatan ini bukan sekadar aksi sosial, tetapi juga wujud pengamalan nilai keislaman dan kebangsaan yang mereka pelajari.
“Kami ingin FORSIMMATH dan para santri hadir langsung di tengah masyarakat, terutama saat mereka sedang menghadapi kesulitan. Ini adalah bentuk pengabdian nyata,” ujar salah satu perwakilan relawan.
Apresiasi Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Banjarnegara menyambut baik aksi kepedulian ini. Bupati Banjarnegara, Ibu Amalia Desiana, menyampaikan apresiasi dan harapannya agar semangat solidaritas terus tumbuh.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada FORSIMMATH, santri, dan mahasiswa Tanbihul Ghofilin. Semoga Allah mencatatnya sebagai ladang pahala. Dengan saling membantu, kami berharap para korban dapat segera bangkit dari musibah ini,” ujar beliau.
Kehadiran FORSIMMATH di Situkung menjadi bukti bahwa pesantren dan organisasi santri tidak hanya fokus pada pendidikan, tetapi juga hadir aktif dalam merespons persoalan sosial dan kemanusiaan — menguatkan, mengobati luka, dan menumbuhkan harapan.
