Cyber Security: Solusi, Bukan Pembatasan Ekspresi di Tengah Banjir Informasi Tabu

admin
0

 


Di era digital, kebebasan berekspresi sering diposisikan berhadap-hadapan dengan cyber security. Seolah-olah keamanan siber adalah pagar tinggi yang membatasi suara, kreativitas, dan kebebasan berpikir. Padahal, anggapan ini keliru. Cyber security bukanlah pembatasan, melainkan sabuk pengaman—tidak menghalangi laju, justru mencegah kecelakaan.

Fenomena yang kini marak di media sosial bukan sekadar derasnya informasi, tetapi berlimpahnya konsumsi informasi tabu: konten sensasional, provokatif, setengah benar, bahkan manipulatif. Akibatnya? Bukan hanya kegaduhan digital, tapi lambannya pengambilan keputusan, baik secara personal, sosial, maupun institusional.

Informasi Tabu dan Kelumpuhan Nalar

Otak manusia tidak dirancang untuk mencerna ribuan opini dalam satu hari. Ketika media sosial dipenuhi isu tabu yang dikemas emosional—tanpa konteks dan verifikasi—terjadi apa yang disebut analysis paralysis. Kita bukan kekurangan informasi, justru kelebihan informasi yang tidak sehat.

Alih-alih mempercepat pengambilan keputusan, konsumsi konten semacam ini memperpanjang keraguan, memperkuat bias, dan menumpulkan nalar kritis. Akhirnya, keputusan ditunda, tanggung jawab dilempar, dan kejelasan dikorbankan. Ironis, di zaman serba cepat, kita justru macet di persimpangan opini.

Cyber Security sebagai Penjernih, Bukan Penyumbat



Cyber security hadir bukan untuk membungkam, melainkan menjernihkan ruang digital. Ia bekerja memastikan bahwa:

  • informasi yang beredar dapat dipertanggungjawabkan,

  • data tidak dimanipulasi untuk kepentingan tersembunyi,

  • dan ruang ekspresi tidak dikuasai oleh disinformasi yang merusak akal sehat.

Tanpa keamanan siber, kebebasan berekspresi berubah menjadi kebebasan menyesatkan. Seperti lalu lintas tanpa rambu—semua bisa jalan, tapi tabrakan tinggal menunggu waktu.

Ekspresi Sehat Butuh Ekosistem Aman

Ekspresi yang sehat lahir dari ekosistem yang aman. Cyber security memastikan setiap individu dapat bersuara tanpa takut datanya disalahgunakan, identitasnya dicuri, atau opininya dipelintir oleh algoritma yang lapar sensasi.

Di sinilah letak paradoks yang sering disalahpahami: semakin aman ruang digital, semakin bebas ekspresi yang bermakna. Bukan bebas berisik, tapi bebas bernilai.

Menuju Kedewasaan Digital

Masalah utama bukan pada teknologinya, melainkan pada kedewasaan kita menggunakannya. Cyber security seharusnya dipandang sebagai mitra literasi digital—mendorong masyarakat untuk tidak sekadar cepat bereaksi, tapi cermat mengambil keputusan.

Ke depan, tantangan kita bukan memilih antara keamanan atau kebebasan. Tantangannya adalah menyatukan keduanya agar media sosial kembali menjadi ruang dialog, bukan ruang gaduh yang melumpuhkan keputusan.

Karena pada akhirnya, kebebasan berekspresi tanpa keamanan hanyalah kebisingan. Dan keamanan tanpa pemahaman akan dianggap pengekangan. Cyber security hadir untuk memastikan kita tidak kehilangan arah—di tengah dunia digital yang terlalu ramai untuk sekadar dipercaya.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)